Pakar Biologi dan Molekuler Ines Atmosukarto mengaku tak setuju Indonesia menjiplak cara Singapura yg mempersiapkan new masuk logika dengan memberlakukan Covid-19 selaku penyakit flu biasa. Indonesia harus lebih ketat dalam penanganan pandemi Covid-19.

Sebelumnya, Singapura dikabarkan tengah menyusun roadmap hidup "berdampingan" dengan Covid-19 untuk warganya. Pemerintah Singapura berharap virus corona itu mulai menjadi endemik.

"Pertama tingkat transmisi lokal mereka (Singapura) rendah dan kedua laju vaksinasinya telah cukup tinggi," ujar Ines kepada CNNIndonesia.com, Selasa (29/6).

Menurut Ines sebanyak 36 persen masyarakatSingapura telah divaksin secara sarat . Sementara setengah dari populasi telah mendapatkan setidaknya sesuatu takaran vaksin.

Ad interim itu, di Indonesia kurang dari 5 persen dari total masyarakatyang sudah menerima beberapa takaran vaksin.

"Bahkan Indonesia masih menghadapi lonjakan dilema yg andal dan pelayanan kesehatan di Indonesia melaksanakan diuji berat. Karena itu tidak sempurna kami ikut nguping dan nyontek omongan tetangga," tambah Ines.

Bagi Ines setiap negara memiliki tahapan masing-masing dalam proses penyembuhan. Diperlukan ketekunan dan kedisiplinan, lanjutnya.

Singapura, lanjut Ines, mampu hingga pada tahap membahas "hidup berdampingan dengan virus" karena mereka memamerkan kedisiplinan yang tinggi dalam menekan penularan virus, artinya ini menjadi tantangan yang dihadapi Indonesia jauh lebih berat alasannya adalah berisikan kepulauan dengan masyarakat270 juta.

Sedangkan Singapura negara kecil dengan jumlah masyarakatyang sedikit. Mengutip population in brief, jumlah warga negara di Singapura meningkat 0,6 persen menjadi 3,52 juta jiwa sampai Juni 2020.

"Sudahlah kami konsentrasi pada apa yg harus dikerjakan di Indonesia sesuai dengan keadaan dan kebutuhan Indonesia," ucapnya.

Tak jauh beda dengan Ines, hebat virus Indonesia Ahmad Rusdan menyinggung kapasitas testing, tracing dan cakupan vaksinasi di Indonesia.

"Kaprikornus kalau Indonesia mau bebas masker ya amati prosesnya dahulu. Jangan hanya copas (salin-tempel) hasil," tutur Ahmad.

Sebelumnya Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono memutuskan Indonesia tak mungkin mengikuti jejak Singapura perihal rencana hidup masuk akal bareng Corona.

"Kalau nggak milik rencana, nggak milik tujuan bagaimana mampu mengendalikan pandemi? Mengendalikan pandemi kan butuh manajemen, butuh metode, bukan tambal sulam seperti kini, ujar Pandu dikala dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (28/6).