WhatsApp memblokir memblokir 8 juta akun di seluruh dunia yg membuatkan isu sampah (spam).

Selain itu, perusahaan ini juga memblokir 2 juta akun pengguna di India dalam sebulan terakhir atas sikap berbahaya.

Pemblokiran ini dijalankan Whatsapp menggunakan teknologi otomatis dalam sebulan terakhir antara 15 Mei sampai 15 Juni 2021.

Total, Whatsapp menerima 345 unek-unek terkait gosip sampah di India. Saat ini terdapat 539 juta pengguna Whatsapp di India, sementara di segala dunia, layanan ini digunakan oleh 2 miliar pengguna. Sehingga, India ialah pasar pengguna terbesar Whatsapp.

Pemerintah India yang mewajibkan Whatsapp buat menawarkan laporan detil berapa banyak keluhan spam. Kewajiban ini yaitu bab dari aturan teknologi informasi gres di negara itu.

Anggaran gres itu akan berlaku pada Mei 2021. Dalam aturan baru itu, perusahaan media sosial diwajibkan bagi memberikan laporan kepatuhan setiap bulan, dan merinci berapa banyak ganjalan yg mereka terima dari pengguna India serta tindakan apa yg mereka ambil.

Dalam peraturan modern itu, perusahaan teknologi internasional juga harus memberdayakan direktur lokal, yang mampu menolong mengontrol konten dan cepat mengambil langkah-langkah bagi menanggapi ganjalan aturan.

Pelaksanaan perpesanan milik Facebook itu mengungkap 95 persen dari 2 juta akun yg diblokir antara 15 Mei dan 15 Juni dikerjakan 'alasannya penggunaan pesan otomatis atau massal yang tak sah'.

"Angka-angka ini berkembangsecara signifikan semenjak 2019 karena sistem kami telah berkembangkecanggihannya," kata perusahaan itu dalam pernyataan resmi.

"Perlu diingat, kalian melarang sebagian besar akun ini secara proaktif, tanpa bergantung pada laporan pengguna mana pun," tambahnya.

Pada tahun 2018 WhatsApp disebut mulai menghalangi kesanggupan pengguna untuk meneruskan pesan. Hal itu dilaksanakan usai info hoaks yang info terkini di platformnya. WhatsApp juga disalahkan atas rentetan masalah kekerasan massal di India.

Dikuti Hidustan Times, ini ialah laporan pertama yang diterbitkan WhatsApp untuk India. WhatsApp perusahaan keempat setelah Google, Facebook dan Twitter yang menerbitkan laporan tersebut sesuai dengan pemikiran gres. 

Meskipun WhatsApp telah mematuhi dua aspek dari aturan gres itu, namun WhatsApp juga sempat menggugat pemerintah India pada Mei 2021. Pasalnya, negara itu meminta agar pihak berwenang India mampu melacak siapa 'pencetus pertama' penyebaran pesan di platform itu.

India memperlihatkan ajakan khusus itu hanya dipraktekkan pada persoalan kejahatan serius. Meski demikian WhatsApp khawatir bahwa langkah itu mampu menyelesaikan jaminan privasi pengguna yg mereka janjikan terhadap pengguna. Sebab, dengan demikian platform layanan pesan instan itu mesti melacak pesan pengguna yang ketika ini terlindung enkripsi.

"Mengharuskan aplikasi perpesanan untuk 'melacak' dialog sama dengan meminta kalian buat menyimpan sidik jari dari setiap pesan yg diantardi WhatsApp, yang hendak merusak enkripsi ujung ke ujung dan intinya menghancurkan hak privasi orang," kata juru bicara perusahaan terhadap CNN, dikala somasi diajukan pada Mei lalu.